Thursday, March 10, 2005

Balik ndeso...pulang kampung..

Yah, sodara-sodara, tampaknya warung saya ini akan segera tutup di bulan Agustus karena saya akan selama-lamanya balik ndeso alias pulang kampung ke Indonesa (catet, bukan Indone-sya). Nggak mungkin dong saya terus-menerus ngeblog di nenydiamrik, wong sayanya nggak di Amrik. Tapi saya janji bakal ngeblog terus di sini (tunggu launchingnya di bulan Agustus ya?).

Ceritanya, kemarin saya dapat email penolakan cinta yang menyakitkan (lhah?). Iya, Na (dan teman-teman yang lain), saya dengan resmi tidak diterima untuk terus sekolah di ladang jagung Iowa ini. Setelah menjelaskan bahwa ada sekian banyak pelamar dan bahwa ini adalah pengambilan keputusan yang paling berat, bla bla bla, ketua jurusan saya ini menyampaikan bahwa dengan berat hati Anda belum bisa diterima di program PhD ini. Bah! Pakai basa-basi segala, Pak, singkat padat saja, Anda tidak diterima! Titik!
Ini gambar gedung Ross Hall tempat kuliah PhD itu, terambil dari web ini


Di kanan itu temen saya yang hebat itu
Sedih? Iya. Sakit hati? Iya. Nangis? Enggak lah. Ngapain? Lha wong saya nggak tau persis kriteria-nya para bapak dan ibu ini dalam menentukan diterima tidaknya para pelamar. Teman saya ini saja, yang menurut saya resumenya sungguh sangat bikin ciut nyali, ternyata juga mengalami nasib yang sama dengan saya. Ditolak dengan sukses! Bayangkan saja, dia yang bener-bener berkualitas nomor satu, pekerja keras, tulisannya udah diterbitkan dimana-mana, udah presentasi di tingkat internasional, ehhhh...nggak diterima. Kalo gitu pantas sajalah kalau saya yang cuma gini-gini aja ini nggak diterima.


Eh, saya sempat sih nangis dikit, pas teman Russia saya menanyakan. Tapi cuma dikit dan langsung bisa senyum-senyum jahil begitu dia menawari saya pergi makan siang bareng. Hehehe, makasih ya, Kamerad, udah dibayari makan buffet! (hahaah, maruk ya, bener2 nggak mau rugi!) Mungkin dia tahu saya sedih berat dan mencoba menenangkan galau pikir dan hati saya karena nggak diterima dengan membayari makan siang saya kemarin.

Jadi? Ya saya akan pulang kampung. Ketemu dua lelaki tercinta saya lagi. Mengajar murid-murid bandel saya lagi di sini. Makan soto ayam Esto lagi *grin*. Terus terang, mulai kemarin saya mulai melihat segala sesuatu di Ames ini dengan kacamata berbeda. Saya pasti kangen Ames dan orang-orang saya temui di sini. Mata saya sekarang membasah menatap langit Ames yang tengah mendung. Mungkin saya malah tak akan pernah bisa kembali ke sini. Tapi banyak kenangan yang akan saya simpan di hati saya.

Saya bersyukur. Atas segala pengalaman. Atas segala pertemanan. Atas segala penerimaan. Atas segala penolakan. Terima kasih, Tuhan!